Tepat hari sabtu besok tanggal 8 Januari 2011 di TPI-AUD Cahaya Ilmu Semarang akan diadakan kelas parenting yang diikuti oleh wali murid Cahaya Ilmu. Acara ini akan berlangsung puku delapan pagi, dengan agenda utama pembekalan untuk orang tua yang memiliki anak supaya dapat mendidik sesuai dengan fitrah anak.
Parenting kali ini akan menengahkan pembicara yang sudah malang melintang dalam dunia pendidikan anak yakni saudara Dedy Ardiyanto dan Saudari Dewanti.
Bagi masyarakat yang ingin menimba ilmu parenting, mengenal lebih jauh seputar pendidikan anak bisa mengikuti acaranya.
Oleh : Sugiharti (Sciena Madani Semarang) Menjadi guru tidak sesederhana yang kita bayangkan. Sepintas kita melihat bahwa guru hanya bertugas mengajar di depan kelas kemudian memberi nilai kepada murid. Tetapi dibalik itu, guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Dari mulai hal-hal yang bersifat teknis hingga ke moral building, semua menjadi tanggung jawab yang harus diemban oleh para guru. Kaitanya dengan pendidikan, guru mempunyai dua tugas; mengajar dan mendidik. Mengajar berkaitan erat dengan bagaimana seorang guru dapat memberikan materi pelajaran dengan metode yang menarik. Dalam hal ini, guru dituntut untuk kreatif dalam mengajar. Sebelum mengajar, guru terlebih dahulu harus mempersiapkan rencana yang matang, membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan menyiapkan media atau alat yang sesuai untuk proses belajar mengajar. Selain itu, agar materi yang disampaikan bisa diterima murid dengan mudah, perlu adanya seni yang nota bene penting untuk dikuasai oleh para guru, karena mengajar merupakan sebuah seni. Seorang guru beretorika di depan kelas dengan gaya yang luwes dan berusaha memasang wajah senyum dan ceria meski dalam situasi sedih, semua itu membutuhkan ketrampilan seni, baik seni retorika maupun seni aktingSedangkan mendidik erat kaitanya dengan membangun kekuatan mental dan spiritual peserta didik (moral force), seorang guru harus benar-benar menjadi figur Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani, artinya guru hendaknya bisa menjadi teladan bagi siswa di manapun berada. Keteladanan tersebut dapat ditunjukkan dengan memosisikan guru sebagai orang tua di sekolah melalui pemberian perhatian dan cinta yang tulus kepada murid, membimbing mereka apabila mengalami kesulitan yang tidak terbatas pada materi pelajaran saja, tetapi juga kesulitan yang berhubungan dengan problematika dan psikologis murid. Ketika berada di tengah-tengah para murid, ia harus dapat mensejajarkan diri dengan murid sehingga dapat menyelami kehidupan mereka. Bila seorang guru telah mengenal muridnya dengan baik, maka dapat tercipta hubungan yang dinamis antara murid dengan guru. Selain itu, perhatian dan cinta yang tulus terhadap murid akan membawa dampak yang positif terhadap peningkatan prestasi dalam segala bidang. Oleh karena itu, tugas guru yang besar dan mulia ini perlu diimbangi dengan perhatian pemerintah terhadap standar kelayakan gaji guru, baik guru negeri, swasta maupun honorer. Mustahil seoarang guru dapat meningkatkan kecerdasan anak bangsa jika mereka masih tertatih-tatih untuk meningkatkan kesehteraan hidupnya sendiri. Sudah saatnya guru memperoleh haknya untuk hidup layak sehingga cita-cita pendidikan untuk mencerdaskan generasi bangsa dapat tercapai secara optimal. Read More..
Selama ini guru belum mengajari siswanya tentang cara membaca puisi yang baik dan benar. Yang terjadi adalah guru menyodorkan naskah puisi, kemudian menyuruh siswa membacanya di depan kelas, dan langsung dinilai. Proses ini dilakukan tanpa didahului dengan arahan, bimbingan, dan latihan yang madai. Siswa dibiarkan membaca puisi sak uni unine. Ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam membaca puisi. Pertama, materi pelajaran yang disampaikan terlalu sulit; kedua, media pembelajaran membaca puisi yang kurang; ketiga, minat belajar siswa yang rendah; dan keempat, cara mengajar guru yang masih belum tepat. Setelah dilakukan penelusuran ternyata materi puisi yang disampaikan ke anak bukan materi yang sulit. Bahkan guru telah memberikan puisi yang sangat sederhana, tetapi hasilnya masih saja memprihatinkan. Media pembelajaran di sekolah juga sudah tersedia, misal tape rekorder, VCD, dan komputer. Akhirnya diperoleh sebuah kesimpulan bahwa penyebab utama rendahnya kemampuan anak dalam membaca puisi adalah cara mengajar guru yang belum tepat. DOWNLOAD